Showing posts with label Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Inspiratif. Show all posts

14 July 2011

KANUGRAHAN

Betul-betul suatu keadaan yang pantas disyukuri oleh seluruh warga SMKN 3 Yogyakarta tahun ajaran ini. Diawali dengan keluarnya hasil akreditasi. Semua program keahlian berhasil mendapat predikat A. Kelelahan yang dirasa ketika mempersiapkan segalanya, bahkan sampai memberlakukan sistem "manajemen over time" alias lembur, seakan lenyap begitu saja. Ada kemantapan dan rasa percaya diri yang meningkat, yang jelas terlihat dari raut muka teman-teman guru, khususnya guru produktif.

Akhir pekan lalu, dirembang petang hari Jum'at, Pak Tono, branch manager PT. TUV Rheinland di Yogyakarta, sekaligus selaku salah satu auditor sertifikasi SMM ISO 9001:2008, merekomendasikan SMKN 3 Yogyakarta untuk mendapatkan sertifikat ISO 9001:2008. 
Tak ada satu katapun bisa terucap ketika itu. Hanya dua rasa yang ada dihati, dan mungkin juga tercermin diwajah, yaitu syukur dan kelegaan. Syukur dan lega, karena akhirnya  pengakuan akan komitmen untuk menerapkan sistem manajemen di SMKN 3 Yogyakarta, akan terpampang melalui selembar sertifikat. 
Rasanya terbayar sudah segala kelelahan, segala tekanan, segala ungkapan ketidaksukaan kepada anggota QMS, sebagai salah satu unit kerja (yang nurut sebagian teman katanya eksklusif. Weehhh...apa itu eksklusif?) maupun selaku pribadi. Hari itu, meski sangat mungkin kuyu, tapi saya sangat meyakini, bahwa ada rona bahagia dan sedikit bangga terpancar dari masing-masing wajah kami. Pun senyum yang muncul tak lagi masam seperti hari-hari yang telah lalu. Serta ada tekad dan semangat baru untuk menapak lebih lanjut, untuk tak mudah surut meski apapun yang terjadi. 
Sangat kental tersimpan dalam ingatan, betapa banyak hal-hal yang ketika itu terasa menyakitkan, kini rasanya jadi lucu saja. Beberapa kali sebagian diantara kami sangat lelah menghadapi situasi yang seakan jalan ditempat, hanya dengan semangkok soto depan sekolah kami jadi ketawa semua. Karena gara-gara itu, muncul istilah baru, sotonisasi. Hahaha...
Kami, anggota QMS, baru kali ini dikumpulkan dalam satu wadah, satu unit kerja untuk bekerja bersama. Ada rasa kebersamaan yang terjalin, yang mengajak kami kadang bertingkah seakan kami menjadi remaja lagi. Saling berboncengan berwisata ke kawasan Merapi ( mestinya rapat, tapi kami pergi dengan alasan menengok teman yang mesti mengungsi karena bencana letusan Merapi tahun yang lalu, bukan main !!!), meski hujan mungkin turun sewaktu-waktu, kami tak peduli.
Tak jarang kami saling berbantah tentang satu klausul, yang kami sama-sama kurang memahami (aneh ya, sama tak tahunya tapi semua merasa sok ngerti ?). Dan biasanya, diujung perbantahan itu, selalu saja ada salah satu diantara kami yang berdalih, ya inilah namanya kita belajar...(mencari pembenaran atas kekonyolan ketika saling merasa benar.... Jaaaannnn....kemaki kabuehhh   !!!).

Hari ini, awal pekan merupakan hari pengumuman hasil Ujian Nasional siswa kelas XII. 
Dari 620 peserta didik yang mengikuti Ujian Nasional, dengan sangat berat hati kami merelakan satu siswa dinyatakan tidak lulus. Meski tingkat ketidaklulusan tidak sampai 1%, tetap saja mengajak kami berfikir lagi, apa yang sebenarnya terjadi ataupun dihadapi siswa itu, sampai terjadi hal ini. 

Nikmat-nikmat yang sangat besar telah diterima oleh seluruh warga SMKN 3 Yogyakarta. Dalam istilah bahasa Indonesia sangat sulit bagi saya untuk mengungkapkan situasi ini secara ringkas. Tetapi dalam bahasa Jawa terdapat satu kata yang mencerminkan semua ini, yaitu Kanugrahan, yang bermakna karunia yang besar dari Allah swt, yang tak semua orang memperoleh, meski sudah berusaha mati-matian.

22 November 2010

YANG TERLEWATKAN DENGAN MERAPI


Hampir satu bulan sejak hari pertama Merapi memuntahkan isi perutnya. Pagi ini dilaksanakan  upacara bendera rutin setiap hari Senin di sekolah . Ketika upacara tadi saya berdiri berjajar dengan salah satu guru ,  sebut saja namanya Ibu Inayati (semoga saya tidak keliru, beliau guru baru jadi saya belum  begitu hafal namanya....) yang kebetulan menjadi seorang relawan, yang menurut penuturannya banyak menyalurkan bantuan dari para donatur ke korban Merapi, khususnya kepada mereka yang tidak mengungsi di tempat-tempat yang tidak dikoordinir oleh pemerintah.

BELAJAR BERSAMA MERAPI

Sejak tanggal 26 Oktober 2010 yang lalu kehidupan di kota kami, Yogyakarta, tak senyaman hari-hari sebelumnya. Ini disebabkan Merapi, gunung yang berada disisi utara sana menunjukkan keaktifannya jauh di atas rata-rata. Muntah-muntah diseling batuk tiada henti selama berhari-hari ( kayak anak-anak yang lagi flu ya...), sambil tak lupa mengeluarkan isi perutnya disemburkan kemana-mana. Perut Merapi yang begitu besar, tentu besar pula kapasitasnya, sehingga yang kebagian semburan itu tak hanya kami orang Yogya, Sleman khususnya, tapi seluruh kawasan di seputaran di dua provinsi, DIY dan Jawa Tengah. Bahkan, konon kabarnya sampai nun jauh di Bogor sana. Hebat memang, Merapi kita ini.... Sehingga sampai beberapa hari yang lalu langit di atas Yogya terasa dinaungi nuansa yang aneh.

09 November 2010

KETIKA MERAPI BICARA

Senin, 8 November 2010 - Berangkat kerja dengan niat menjalani aktivitas rutin sebagai seorang  pendidik di Sekolah Menengah Kejuruan di Jogjakarta. Sepanjang perjalanan, sudah terasa suasana yang tak  seperti biasanya. Sepi.... sepi....dan sepi....! Lalu-lintas tak seramai biasanya, karena mahasiswa tak terlihat ikut meramaikan jalanan sebagai hasil kebijakan perguruan-perguruan tinggi  yang meliburkan kegiatan di kampusnya.  Aktivitas pekerja tak nampak menggeliat. Boleh dikata Yogya nyaris seperti suasana libur lebaran saking sepinya.

04 October 2010

TERNYATA AKU (bukan) GURU HEBAT

20 tahun saya menjadi guru di suatu sekolah negeri. Banyak sekali yang saya peroleh dalam kurun waktu yang tak pendek itu. Selain finansial (seberapapun yang kata orang gaji seorang guru PNS itu rendah, tetapi jika dikumpulkan selama 20 tahun, bagi saya itu merupakan jumlah yang  besar), relasi, juga hal-hal lainnya lagi, baik  yang berkait langsung dan mendukung perbaikan profesionalitas saya sebagai guru, maupun  yang sifatnya memperkaya nilai pribadi saya.
Dari hal-hal yang mendukung profesionalitas saya sebagai guru adalah beberapa kesempatan yang saya terima untuk mengikuti diklat ataupun workshop. Untuk mengikuti kegiatan-kegiatan itu tak jarang saya harus meninggalkan keluarga dalam waktu yang relatif lama (yang terlama 2 bulan), karena kegiatan diadakan di luar kota. Atau, meskipun kegiatan itu diadakan di dalam kota, tetapi karena diadakan selama beberapa hari dengan banyak tugas pendukungnya, seringkali tugas rumahpun tak tertangani sebagaimana mestinya. Hanya karena pengertian yang besar dari seluruh anggota keluargalah semuanya tetap berjalan. Dan itu terjadi karena ada kesadaran bersama, bahwa itu semua saya ikuti semata-mata agar saya menjadi guru yang lebih berkualitas, sebagaimana diharapkan oleh sang pemberi tugas, yaitu atasan saya, ataupun atasannya atasan saya. (Bingung?)

22 September 2010

PERJALANAN CINTA

Ketika saya membuka email dapat kiriman cerita dari teman blogger. Cerita ini  merupakan kisah nyata. Dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptop miliknya. Selengkapnya silahkan rekan membaca sendiri. Dengan harapan rekan2 dapat mengambil cerita ini sebagai pembelajaran. Sosok perempuan yang tangguh lagi luar biasa.

Cinta itu butuh kesabaran…
Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???

Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita...
Aku menjadi perempuan yg paling bahagia...
Pernikahan kami sederhana namun meriah…..
Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.
Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan dan mapan pula.
Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.
Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu..
Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….
Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.
Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi.
Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku.
Dan aku bahagia menikah dengannya.

                     ----------------------- oOo --------------------

Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.
Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.
Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…
Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.
Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…
Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…
Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.
Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.
Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab  mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.
Kubuka pintu yang tertutup rapat itu  sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.
Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahn
Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …
“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.
Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.
Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.
Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang saja, ada kami yang menjaga abang disini. Kau istirahat saja.”
Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.
Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

----------------------- o0o --------------------

Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.
Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.
Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?
Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”
Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”
“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.
“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.
”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.
”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.
Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.
Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.
Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.
Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.
Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.
Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.
Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.

----------------------- oOo --------------------

Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.

Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.
Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..
Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.
Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..
Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..
Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…
Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.
Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.
Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.
Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.
Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.
Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.
Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..
Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..
Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.
Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.

----------------------- oOo --------------------

Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.
Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?
Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.
Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.
Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.
Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.
Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.

----------------------- oOo --------------------

Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.
Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.
Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.
Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.
“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.
“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.
“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.
Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.
Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”
Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.
Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.
Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..

----------------------- oOo --------------------

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..
Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.
Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.
Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.
Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.
“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.
”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..
Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.
Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?
“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.
“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.
Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.
Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“
MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..
Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulaukayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.
“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.
Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.
”Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.
Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”
Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”
Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”
Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.
”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.
Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..
Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?
Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“
Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.
Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.
Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.
Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.
Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata,  “sudah malam, kita istirahat yuk!“
“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.
Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.
Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.

----------------------- oOo --------------------

Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.
Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Akusave di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”
Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.
“Apakah kamu sudah siap?”
Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :
“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.
Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”
Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…
“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.
Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.
Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.
Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.
Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.
Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.
Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

----------------------- oOo --------------------

Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.
Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.
Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat.
Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.
Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?
Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.
Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.
Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.
“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”
Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..
Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”
Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.
Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”
”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.
Lalu suamiku berkata, ”Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”
Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.
Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.
Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.
Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.

----------------------- ooo0ooo --------------------

Keesokan harinya…
Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.
Aku pun dilarikan ke rumah sakit..
Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..
Aku merasakan tanganku basah..
Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.
Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf…”
Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?
Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”
“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”
Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.
Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.
Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..
Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..
Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.
Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.
Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.”

----------------------- ooo0ooo --------------------

Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku. 

----------------------- ooo0ooo --------------------

Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?
Aku dihina oleh mereka ayah.
Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?
Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..
Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?
Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..
Aku diusir dari rumah sakit.
Aku tak boleh merawat suamiku.
Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.
Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.
Aku sangat marah..
Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi danibunya..
Aku tak mau sakit hati lagi.
Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..
Engkau Maha Adil..
Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..
Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..
Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..
Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..
Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..
Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..
Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.
Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.
Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.
Aku harus sadar diri.
Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.
Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?
Ayah.. aku masih tak rela.
Tapi aku harus ikhlas menerimanya.
Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.
Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.
Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.
Sebelum ajal ini menjemputku.
Ayah... aku kangen ayah...

----------------------- ooo0ooo --------------------

Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..
Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.
Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.
Bunda akan selalu hidup dihati ayah.
Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..
Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.
Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.
Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..
Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.
Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku...
Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang.
Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.
Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?
Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?
Tunggulah Ayah disana Bunda...
Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini...
Aku mohon...
Ayah Sayang Bunda....

26 August 2010

SEMANGAT SI BOCAH CACAT

Ujian yang mahaberat, jika disikapi dengan pikiran terbuka dan jiwa yang lapang, bisa mengobarkan semangat perjuangan yang tak gampang padam. Dan, semangat itulah yang dikobarkan seorang bocah bernama Qian Hongyan. Kita memang kadang perlu belajar dari seorang bocah.
Jika kita ingat kembali, semangat sebagai anak-anak sangat kuat untuk menerjang semua halangan dan tantangan. Satu contoh nyata adalah saat kita belajar berjalan. Meski jatuh berkali-kali, sebagai seorang bocah kita tentunya terus berusaha hingga benar-benar bisa berjalan seperti saat ini. Dan, semangat ala bocah inilah yang-barangkali-mampu menjadi "bara api" yang terus menyala di tengah gelap dan kerasnya ujian bagi sesosok anak berusia belasan dari negeri China, Qian Hongyan. Ujian yang menimpa Qian memang sangat berat. Betapa tidak, di usianya yang masih sangat dini-tiga tahun (tepatnya pada bulan Oktober 2000)-ia mengalami kecelakaan fatal yang mengakibatkan separuh tubuhnya hingga batas pinggang harus diamputasi. Kondisi itu diperparah lagi dengan keadaan ekonomi orangtua Qian yang tidak berkecukupan. Karena itu, keluarga gadis cilik yang tinggal di Zhuangxia, China itu tak mampu memberikan kaki palsu untuk Qian. Sebagai gantinya, keluarga tersebut menyangga tubuh Qian dengan potongan bola basket. Sebuah solusi yang jauh dari kata nyaman, seperti kaki-kaki palsu lainnya.
Namun, meski tumbuh dengan keterbatasan, Qian membuktikan bahwa dunia belumlah tamat bagi dirinya. Ia tumbuh menjadi gadis yang periang dan murah senyum-seolah-olah tak terjadi suatu apa pun dalam dirinya. Dengan memantulkan bola basket di bagian bawah tubuhnya, dan dibantu penyangga untuk membantunya bergerak, Qian tetap bisa menjadi bocah lincah layaknya kebanyakan anak normal.
Bersiap Mendunia
Dengan kekurangan di tubuhnya, Qian pantang berputus asa, meski ia belum tahu bagaimana masa depannya kelak serta bagaimana ia bisa mengubah hidupnya dengan kondisinya saat itu. Hingga, suatu ketika ia mendatangi sebuah pertandingan olahraga nasional yang diselenggarakan di Kunming pada bulan Mei 2007. Di sana, benih yang menumbuhkan cita-citanya bertumbuh.
Saat itu, Qian setiap hari menyaksikan perjuangan beberapa atlet cacat yang ikut menyemarakkan pertandingan. Melihat perjuangan rekan senasib yang bertubuh cacat, hati Qian pun tergerak. Jika orang lain mampu berprestasi di bidang olahraga meski dengan tubuh cacat, mengapa dia tidak melakukan hal yang sama? Pikiran itulah meletupkan cita-cita Qian Hongyan untukikut menjadi seorang atlet.
Maka, selepas acara olahraga nasional tersebut, tekad Qian segera diwujudkan dengan bergabung di sebuah klub renang khusus. Tekad itu didukung sepenuhnya oleh orangtua Qian. Maka, mereka pun mendatangi Zhang Honghu, seorang pelatih yang terkenal banyak menjadikan perenang cacat sebagai juara di kejuaraan renang. Qian meminta kesempatan kepada Zhang untuk dilatih menjadi seorang seorang juara.
Zhang yang dikenal sebagai pelatih bertangan dingin hanya mengatakan bahwa semua tergantung pada kemauan dan tekad Qian. Sebab, menurutnya, dengan kekurangan separuh tubuh yang tak dimilikinya, agak sulit bagi Qian untuk berenang dengan hanya mengandalkan kedua lengannya. Tetapi, tekad sangat kuat Qian rupanya berhasil memikat Zhang. Maka, ia pun memberikan porsi latihan khusus bagi Qian agar lebih mampu menyeimbangkan kedua bahu dan lengannya.
Kepercayaan Zhang pun dijawab dengan kesungguhan Qian. Dengan porsi latihan cukup berat, apalagi dengan kesulitan yang dialami sejak awal latihan, Qian tak pernah sekali pun mengeluh. Baginya, impian untuk menjadi atlet adalah cita-cita yang tak boleh padam. Dalam sehari, setidaknya jarak 2000 meter ditempuh Qian di arena air untuk melatih otot-ototnya. Selain itu, latihan lain seperti sit-up, mengangkat beban, hingga berbagai jenis latihan dilakukannya dengan bersemangat.
Semangat inilah yang membuat Qian kini dikenal di seantero China dan bahkan dunia. Kisah hidup dan tekad kuatnya telah menginspirasi banyak orang agar mampu mendobrak segala keterbatasan. Kisah Qian banyak dimuat di berbagai media baik cetak maupun online sehingga mengangkat namanya. Kini, ia ingin mendunia dengan usahanya mewakili China pada tahun 2012 pada kejuaraan renang di olimpiade khusus orang cacat. Tak tanggung-tanggung, Qian mematok target menjadi juara dunia renang pada kejuaraan olimpiade tersebut. Dia bekerja keras untuk mewujudkan impiannya tersebut. Jika melihat kesungguhan dan tekadnya, sepertinya impian itu tak mustahil untuk dicapai. Sebab, sejatinya kesungguhan dan tekad kuat yang dilandasi kerja keras akan mampu menaklukkan segala tantangan.
Jika Qian saja mampu, bagaimana dengan kita? 


Sumber :  http://www.andriewongso.com/majalahluarbiasa

04 August 2010

MALU


Hampir dua minggu yang lalu saya mendapat undangan untuk mengikuti Workshop  pengembangan kurikulum. Atau lebih tepatnya, pengintegrasian nilai-nilai karakter dan budaya bangsa serta kewirausahaan  dan ekonomi kreatif dalam pelaksanaan pendidikan disegala jenis dan jenjang.

Ketika itu, dan sampai beberapa saat yang lalu saya merasakan, betapa banyak hal mesti disampaikan oleh seorang guru kepada murid yang diajarnya. Substansi keilmuan yang tidak sederhana dan tidak selalu mudah diterima dengan baik oleh murid, eeee....sekarang diharapkan (apa diharuskan ya,tepatnya?) mengintegrasikan nilai-nilai yang sebenarnya sudah ada dijiwa bangsa Indonesia ke dalam proses pembelajaran.

Disaat hal ini saya diskusikan dengan banyak teman, hampir semua heran dengan pengembangan kurikulum kali ini. Dan ini menurut saya wajar juga, karena toh sebenarnya nillai-nilai yang mesti diintegrasikan itu sudah dilaksanakan oleh guru-guru ketika mengajar. Jadi, mengapa sekarang mesti diadakan acara yang sebenarnya sudah terlaksana?

Eeeh....tapi apa daya saya ini tetap seorang guru, jadi kembali saya menggumulkan hal ini ke dalam benakku yang sudah kusut masai dengan bermacam masalah yang datang silih berganti tak tahu malu. Banyak peristiwa terjadi disekitar kahidupan kita. Menyenangkan, karena hidup terasa lebih berseri tidak jalan ditempat saja. Tetapi walau begitu, ada juga hal-hal yang membuat kita layak untuk mempertanyakan, benarkah nilai-nilai karakter dan budaya bangsa Indonesia , yang konon menurut banyak orang sungguh luhur itu sudah mengalir bersama darah dinadi insan yang mengaku bertanah air Indonesia? Kalau iya, kenapa ada berita di media massa yang begitu mengguncang segala lapisan masyarakat di negeri ini ? Yang artis dengan video hot nya. Yang pejabat dengan pat gulipat dengan pengusaha. Yang pelajar dan mahasiswa dengan tawurannya. Satpol PP dengan keributannya dengan warga biasa. Dan yang lebih menghebohkan adalah tingkah polah sebagian para penghuni gedung besar beratap hijau berbentuk seperti sepasang sayap serangga yang ada di Senayan itu. Iya. Betul. Mereka itu para anggota Dewan Perwakilan Rakyat nan mulia. Yang untuk bisa duduk di sana bukan perkara mudah. Karena selain mesti punya nama, punya pendukung, dan pasti mesti punya dana. Waowww... Sungguh paket mahal !

Tapi, sungguh mengherankan melihat potret sebagian dari mereka di media cetak maupun elektronik. Kursi yang didapat dengan berat itu cuma diduduki sambil membaca koran, atau sibuk dengan telepon genggamnya entah untuk urusan apa, atau bahkan tidur nyenyak ketika mestinya aktif berdiskusi membahas dan mencarikan solusi dari  masalah yang dihadapi rakyat yang sudah mempercayakan urusan kepada mereka. Untuk melaksanakan tugas yang sangat mulia inipun, rakyat tidak lepas tangan begitu saja. Karena toh rakyat juga menggaji mereka lewat pajak yang dibayarkan kepada negara. Jadi, mereka yang ketika sidang itu hadir dan aktif bekerja, hadir, tandatangan presensi tetapi terus pergi entah kemana, hadir tetapi tak peduli dengan apa yang terjadi, ataupun mereka yang tak hadir sama sekali, semuanya sudah menerima dan menikmati fasilitas yang jauh di atas fasilitas yang mampu dinikmati oleh kebanyakan para penggaji mereka. Huuuhhh...
Jadi, mungkin memang cukup beralasan kalau presiden sendiri yang menginstruksikan pengintegrasian nilai-nilai itu tadi dalam pembelajaran di kelas.

PERANG BUBAT


Perang Bubat adalah sebuah peristiwa sejarah ketika Kerajaan Sunda dan Majapahit tampil sebagai dua kerajaan dengan segala keadiluhungannya. Strategi membangun kekuatan besar di Nusantara melalui jalinan hubungan perkawinan antar dua kerajaan, pecah akibat intrik dan konspirasi politik, kesalahpahaman, dan vested interest. Pertumpahan darah pun tak terhindarkan. Bagaimana persisnya peristiwa itu? Tak banyak orang tahu. Tetapi, mitos itu tetap diyakini sebagai kebenaran.
Novel ini mencoba mengangkat kembali peristiwa Perang Bubat itu dalam jalinan yang memukau, filmis, dan asyik. Ketika novelis Indonesia dilanda kekeringan mengangkat sejarah, ogah bekerja keras dalam mengolah data faktual, dan miskin semangat menciptakan karya fenomenal, Aan Merdeka Permana seperti sengaja menwarkan cabaran inspirasi. Membaca novel ini, saya laksana dibetot memasuki pesona lorong waktu yang membuai. Untuk membaca ebook ini selengkapnya silahkan KLIK DISINI

14 July 2010

MENCLA - MENCLE

Masyarakat Jawa memiliki banyak sekali idiomatik dalam berkomunikasi. Misalkan wira-wiri, dapat dimaknai sebagai bentuk pernyataan dari perjalanan berulang-ulang dari sebuah obyek dalam suatu rute.

Idiom lain yang sudah digunakan secara luas adalah ngalor-ngidul. Ngalor dengan kata dasar 'lor' yang berarti utara. Begitu kata lor diberi awalan 'ng' sehingga menjadi kata ngalor'berubah makna menjadi ke utara. Demikian pula kata ngidul, bermakna 'ke selatan', karena kidul merupakan kata dasar yang memiliki arti selatan.

Akan tetapi, ketika kedua kata digunakan secara berurutan, yaitu Ngalor-ngidul, akan menjadi suatu idiomatik yang memiliki makna sangat berbeda dari makna semula .  Makna dari 'Ngalor-ngidul' biasa digunakan untuk menyatakan ketidakjelasan isi pembicaraan seseorang atau sekelompok orang dalam satu waktu.

Suatu ketika, dua fihak membuat kesepakatan tentang sesuatu. Tetapi dengan mudahnya salah satu fihak mengubah kesepakatan tanpa permufakatan dengan fihak lain. Untuk situasi seperti inipun, orang Jawa punya idiomatiknya, yaitu mencla-mencle, yang berarti tidak bisa dipegang omongannya. Dan ini bermakna sama dengan idiom Esuk dhele sore tempe (pagi hari masih kedelai ,sore hari sudah berubah menjadi tempe) yang berarti sulitnya memegang omongan seseorang karena ketidakkonsistenan pembicaraan.

15 June 2010

MAYA .....OUGHH.....MAYA.....

Mayapada....itu bumi.
Mayapada...meski indah dengan hijau pohonnya, sejuk hembusan anginnya, segar rinai hujannya, menawan kerlip bintang malam dan sorot lampunya....Seringkali melenakan para penghuninya.
Bumi yang terhampar luas acap bergolak akhir-akhir ini, bikin ulah dengan guncangan-guncangannya, dengan suhu panasnya, dengan banjir bandangnya, dengan musimnya yang tak lagi rapi berganti dalam rentang waktu yang tertentu seperti nenek bilang dulu, dengan laut biru yang lengkap dengan tsunaminya.....

Mayasari Bhakti....itu nama bis kota di DKI Jakarta.
Yang dulu indah dengan cat hijaunya, yang bisa membantu warga mengakses kepentingannya diseluruh penjuru kota, tetapi dengan berjalannya waktu, suaranya yang menggerung memekakkan telinga dan asap knalpotnya yang  menghitamkan muka pengamen jalanan, tak lagi menarik seperti dulu, terlebih setelah adanya trans Jakarta....

Maya....tegak....diperkecil....
Itu sifat bayangan hasil pencerminan obyek terhadap cermin cembung. Jadi yang terlihat oleh pemilik di muka cermin bukanlah sesuatu yang nyata. Hanya bayangan alias ilusi. Sudah begitu, masih diperkecil lagi ! Sehingga tak jarang orang keliru memperhitungkan jarak obyek yang sesungguhnya.....

Dunia maya....
Berarti dunia yang tak nyata pula, meski di situ bisa pula menampilkan suatu  fakta. Tetapi fakta yang muncul belum tentu benar adanya. Meski begitu, banyak nian orang yang terjerat dalam pesonanya. Karena melalui dunia yang tak mengenal batas ruang dan waktu, para pemakainya dapat menemukan informasi dari belahan dunia yang lain dalam waktu cepat tanpa harus beranjak dari tempat duduknya. Pihak-pihak yang berkepentingan dapat menyampaikan informasi tanpa harus bertatap muka dengan audience ataupun kliennya.Produsen dapat mengiklankan hasil produksinya tanpa perlu menyewa billboard besar di tepi jalan yang tentu saja mahal.  Guru dan dosen dapat menyampaikan tugas kepada siswa dan mahasiswanya disetiap waktu. Begitupun sebaliknya, sang murid dan mahasiswa dapat menyampaikan hasil kerjanya ke e-mail address yang sudah diberikan oleh guru atau dosennya dalam waktu yang sudah ditetapkan. Yang lebih menarik lagi, banyak hiburan yang dapat diunggah dan diunduh dari dunia ini. Tetapi yang lebih menghebohkan, tak sedikit orang yang mencari sensasi dan popularitas melalui media ini, entah dengan cara yang masih menjaga kehormatan diri, ataupun dengan cara sebaliknya,mempermalukan diri....

Maya Rumantir.......penyanyi yang top beberapa tahun yang lalu....
Luna Maya......fotomodel, presenter, pemain film yang juga coba-coba jadi penyanyi.....
Maia dan Maya yang meski tertulis dengan susunan huruf berbeda tetapi bunyi hasil pembacaannya nyaris sama, Maya.....
Para perempuan nan ayu, memiliki pesona masing-masing. tetapi.....masing-masing menorehkan kesan yang tak mudah dilupakan orang lewat penampilan dan tingkahnya di mayapada maupun di dunia maya. Mampukah kita memilih mana kebenaran yang ditampilkan oleh para pemilik nama Maya ini...
Maya......oughhh .....maya.....

13 June 2010

HANYA CINTA

Dua insan jalan beriring di sepanjang pedistrian di pusat pertokoan suatu kota nan indah. Kadang sang pria di depan sambil tak lupa memegang jemari perempuan yang mengikuti dengan langkah kecilnya. Tak jarang si pria mengekor di belakang perempuan yang berjalan lincah sambil mengepit erat tas tangan di sela ketiaknya.

Ketika si perempuan sibuk mengamati, memegang, dan berbincang dengan penjual yang menjaga barang yang menarik hatinya, dengan sabar si pria menunggu di dekatnya dengan diam, meski sebenarnya itu kurang disukainya, sambil tetap memberikan tanggapan manis ketika pasangannya membutuhkan perhatiannya. Begitupun sebaliknya. Ketika sang pria berminat terhadap sesuatu, tak segan si perempuan mendampingi dan memberi perhatian secukupnya.....

Ketika tenggorokan terasa kering, tanpa ragu si perempuan mencari sebotol minuman kemasan ataupun sekantong teh panas, yang dia tahu pasti juga diminati oleh si pria, yang selalu senang berbagi dengan pasangannya.....

Tak banyak yang mereka perbincangkan dalam perjalanan, tapi ketika terucap kata-kata dari keduanya, tersirat pengertian yang begitu mendalam telah terjalin diantara mereka. Ini bukan berarti tak pernah terjadi selisih faham diantara mereka. Itu biasa terjadi selayaknya pasangan lain. Tetapi jika itu terjadi, syukurlah selalu ada kesadaran diantara mereka bahwa hal itu tak perlu diperpanjang lagi.....

Mereka bukan pasangan muda lagi. Kerut merut halus sudah meronai wajah keduanya. Rambut si pria tak tebal indah berombak lagi. Meski helai-helai uban sudah menghiasi kepala , tetapi semangat hidup jelas terpancar dari sorot mata mereka....

Mereka saling menyemangati. Satu sama lain saling berusaha untuk menyenangkan pasangannya. Menghargai apapun yang ada pada pasangannya. Segala lebih dan kurangnya. Bukannya mereka sedang dimabuk asmara, tapi karena memang api cinta sudah begitu lama menghangatkan hati keduanya. Perasaan yang demikian mengingatkan sebuah cerita :

Disuatu pulau kecil tinggallah benda-benda seperti Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kebahagiaan, Kesuksesan, dsb. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan segera menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat segera menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai untuk mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik dan mulai membasahi kaki Cinta.
Tak lama kemudian Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.
“Kekayaan!
Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta.
“Aduh maaf Cinta, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagi pula tak ada tempat lagi bagimu diperahuku ini.”
Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.
Cinta sedih sekali.
Kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya.
“Kegembiraan, tolong aku!”, teriak cinta.
Namun Kegembiraan terlalu bergembira menemukan perahu sehingga ia tidak mendengar teriakan Cinta.
Air makin tinggi membasahi sampai ke pinggang dan Cintapun mulai panik.
Tak lama kemudian lewatlah Kecantikan.
”Kecantikan , bawalah aku bersamamu”, teriak Cinta.
“Wah Cinta, kamu basah dan kotor, aku tak bisa membawamu ikut.
Nanti kamu mengotori perahuku ini”, sahut Kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya.
Ia mulai menangis terisak-isak.
Saat itulah lewat Kesedihan.
“Oh Kesedihan bawalah aku bersamamu”, kata Cinta.
“Maaf Cinta, aku sedang sedih, dan aku ingin sendirian saja…”, kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.
Cinta sudah mulai putus asa, ia melihat air semakin naik dan akan segera menenggelamkannya.
Pada saat kritis itulah terdengar suara,
“Cinta, mari segera naik perahuku”.
Cinta menoleh ke suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya.
Cepat-cepat ia naik ke perahu itu tepat sebelum air menenggelamkannya.
Di pulau terdekat orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.
Pada saat itulah Cinta baru sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang telah menyelamatkannya itu.
Cinta segera menanyakan orang tua itu kepada penduduk di pulau.
Siapa sebenarnya orang tua itu.
“Oh, orang tua itu tadi?, dia adalah Waktu,” kata orang-orang tersebut.
“Tapi kenapa ia menyelamatkanku?
Aku tak mengenalnya!
Bahkan teman-teman yang mengenalkupun enggan untuk menolong”, tanya Cinta heran.
Dengan halus dan sederhana satu diantara warga pulau asing itu berkata :
“Sebab hanya waktu yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari cinta itu…?"

Ya.............
Hanya cinta dan kasih sayang yang ada dan menjaga kemanisan hubungan mereka meski semua keelokan raga berangsur hilang bersama waktu yang berlalu....

Hanya cinta yang bisa menaklukkan dendam
Hanya kasih sayang tulus yang mampu menyentuh
Hanya cinta yang bisa mendamaikan benci
Hanya kasih sayang tulus
yang mampu menembus ruang dan waktu...
('Hanya Cinta yang Bisa - Agnes Monica ft Titie. DJ)

08 June 2010

MARIO TEGUH

Ada sebuah pepatah Afrika yang menyatakan bahwa :
 Tidak akan ada bekas-bekas sapi di mana sapi tidak lewat. Sehingga, seseorang yang memilih jalan yang tidak berisi kebaikan, hanya akan menemukan kegelisahan dan kegusaran dalam kehidupan yang hampa dari kebaikan. Sehingga, dia yang memilih pekerjaan yang tidak menghargai karyawannya, hanya akan mengeluhkan rendahnya bayaran dan penghargaan, walau seperti apa pun baiknya dia bekerja dan mengabdi.
Sehingga, orang yang mengeluhkan hasil dan penghargaan yang diterima dari pekerjaannya, harus memeriksa ketepatan pilihan pekerjaannya, dan berlaku tegas memperbarui pilihannya – jika itu yang harus dilakukannya.
Sehingga, orang yang merasa tidak tumbuh dan menjadi semakin jauh dari kedamaian di dalam pergaulannya, harus dengan tegas mengeluarkan dirinya dari pergaulan-pergaulan yang tidak menjadikannya lebih baik, lebih kuat, dan lebih mampu. Marilah kita ikhlaskan diri untuk menerima, bahwa yang kita temukan, hanya sesuai dengan jalan yang kita pilih.

Itulah cuplikan kata-kata inspiratif salah seorang motifvator ulung Mario Teguh namanya yang memilik nama asli Sis Maryono Teguh - Lahir di Makasar, 05 Maret 1956, menempuh pendidikan : New Trier West High (setingkat SMA) di Chicago, AS, 1975 - Jurusan Linguistik & Pelajaran Bahasa Inggris, IKIP Malang (S-1) - Jurusan Interaksi Bisnis, Sophia University, Tokyo, Jepang - Indiana University, Amerika Serikat, 1983 (Operations System, MBA)

Jika teman-teman ingin memiliki buku dari Mario Teguh silahkan link download disini

12 May 2010

JANJI

Janji matahari tidak pernah memandang apa dan siapa yang akan diberikan kehagatan sinarnya, baginya janji ya tetap janji. Kasih sayang dengan sisi mata jiwa tidak pernah berubah dalam sedetikpun dengan apa yang akan terjadi kepada belahan jiwanya. Kasih sayang dari sisi cinta akan mencerminkan menerima atau tidaknya sebuah pengorbanan walau pada kalanya pengorbanan harus melibatkan sisi jiwa yang tidak terbalas. Kasih sayang melalui sisi cinta pasti mengalami pasang surutnya gejolak rasa dalam memiliki. Cinta yang datang bersama jiwa mampu melakukan apapun yang dinginkan kekasihnya meskipun mengorbankan segala apa yang sangat berharga seperti lilin yang merelakan tubuhnya meleleh dan melebur untuk memberikan cahaya agar kekasihnya tidak khawatir akan gulitanya malam yang pekat dan berusaha memancarkan kenyamanan jiwa kekasihnya.

10 May 2010

PESAN KEPADA KAWAN

Ada dua orang yang melakukan perjalanan pengembaraannya di padang gurun. Masing-masing bernama Mundali dan Dul Samat. Didalam perjalanan masing-masing saling mengungkapkan keadaannya dari kecil sampai dengan kondisinya sekarang. Ketika mereka membicarakan mengenai pengembaraan muncul suatu perdebatan yang berakibat adu mulut sampai dilanjutkan dengan perkelahian (sudah barang tentu dalam perkelahian terjadi adu pukul). Karena Mundali secara phisik jauh lebih kuat dibandingkan Dul Samat. Maka sudah barang tentu dalam perkelahian itu Dulkempli jauh lebih banyak menerima pukulan dari Mundali. Singkat cerita Mundali dan Dul Samat menyadari tidak baik berkelahi. Kemudian Dul Samatdengan jari tangannya menuliskan beberapa kata dipasir sebagai sebuah pesan "HARI INI AKU TELAH DIPUKUL TEMANKU"

Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan pengembaraan. Mereka berdua berbincang tentang kejadian yang baru saja dilakukan. Kenapa mereka berkelahi hanya persoalan yang sepele. Kemudian salah satu dari keduanya memberi isyarat untuk berhenti/istirahat. Dalam istirahatnya mereka membuka rangsum yang dibawanya dan masing-masing menikmatinya. Selesai makan mereka meneruskan perjalanannya. Ditengah perjalanannya mereka menemui sebuah kolam. Tanpa diberikan aba-aba mereka meletakkan bawaannya kemudian mandi. Sudah barang tentu dengan mandi mereka berharap badannya menjadi segar. Akan tetapi, terjadi suatu peristiwa dimana Dul Samat lupa bahwa, dirinya tidak bisa berenang. Dia berteriak-teriak minta tolong pada Mundali untuk menolongnya. Sudah dapat diperkirakan memang Mundali menolongnya sehingga selamatlah Dul Samat dari kematian tenggelam di kolam. Kemudian Dul Samat menuliskan sebuah pesan seperti yang dilakukannya tempo hari bukannya di pasir namun pada sebongkah batu " HARI INI TEMANKU TELAH MENYELAMATKAN NYAWAKU"

Kemudian Mundali bertanya pada Dul Samat, "Kenapa kamu setiap ada kejadian dengan aku kau menulis pesan? Dul Samat menceritakan maksudnya, bahwa tempo hari dia menulis pesan "HARI INI AKU TELAH DIPUKUL TEMANKU" di pasir. Dia berharap bahwa perbuatan yang tidak baik dan yang telah engkau lakukan padaku dapat hilang seperti pesan yang kutulis di pasir yang akan sirna seiring tertiupnya angin. Dan pesan yang kutulis pada sebuah batu aku bermaksud agar perbuatan baik yang kamu lakukan padaku tidak akan mudah lenyap seiring dengan berjalannya waktu.

KUPU KECIL

Ketika membaca artikel di blog dmn aku lupa siapa pemiliknya. Ada sesuatu yang menarik untuk Dituliskan kembali dengan harapan dapat menjadi suatu pembelajaran di masing-masing kita.

ada gadis kecil berjalan-jalan di taman...
dia menemukan kepompong kupu-kupu
Ia sangat suka kupu-kupu dan ia memutuskan untuk membawanya pulang supaya ia bisa melihat kupu-kupu itu keluar dari kepompongnya.

Sesudah sampai di rumah,
si gadis kecil ini terus mengamati kepompong itu
Setelah menunggu dan menunggu
Dia melihat ada sedikit celah yang terbuka di kepompong tersebut.
Dia duduk berjam-jam
dan terus mengamati si kupu-kupu yang mulai mau keluar melalui celah yang kecil itu.

Sungguh lama kupu2 tersebut keluar
nampaknya si kupu-kupu ini agak kesulitan mendorong tubuhnya keluar.
Berkali-kali dia mencoba tapi cuma sampai setengah badan saja yang muncul.
Bahkan kupu-kupu ini terlihat terjebak dan sesekali harus berhenti mendorong tubuhnya

Si gadis kecil pun merasa kasihan dgn kupu2 tadi
"kupu-kupu ini sungguh menderita.. Aku harus menolongnya!"
dengan kebaikan hatinya, memutuskan menolong si kupu-kupu.

Lalu si gadis kecil bergegas mengambil gunting
dan dia menggunting kepompong tersebut dengan maksud untuk mengeluarkan kupu-kupu ini dari kepompongnya.
Si kupu-kupu sekarang bisa keluar,

Tapi...... ternyata badannya kecil dan sayapnya rapuh.

Si gadis kecil terus mengamati kupu-kupu ini
terus dan terus memandangi dengan harapan satu saat sayapnya bisa jadi kuat untuk menopang badannya yang semestinya akan bertambah besar.
Tapi malang, kupu2 tadi tak bisa mengepakkan sayapnya

Kenyataannya, si kupu-kupu kecil ini menghabiskan sisa hidupnya dengan merangkak karena sayapnya tidak berfungsi dan badannya pun tidak tumbuh. Ia tidak pernah bisa terbang....

Si gadis kecil, meski dengan segala kebaikan hatinya untuk menolong,
tidak mengerti bahwa kesulitan yang dialami oleh si kupu-kupu
pada saat akan keluar dari kepompongnya sebetulnya adalah proses yang memang harus dialami kupu-kupu

Sudah hukum alam

sehingga dengan "penderitaan" saat mendorong badannya untuk keluar dari kupu2 tadi
si kupu-kupu bisa mendorong cairan dari tubuh ke sayapnya sehingga begitu ia terbebas dari kepompong kupu-kupu ini bisa punya sayap kuat untuk terbang.

Kebebasan bisa datang setelah kita melewati kesengsaraan.

Si gadis kecil ingin mengakhiri kesengsaraan si kupu-kupu dengan instan,
tapi yang terjadi adalah justru dia menghentikan pertumbuhan.

apa makna cerita kupu2 tadi??

hmmm... walau terlihat menyebalkan
kesengsaraan atau kesulitan MEMANG kita perlukan untuk tumbuh.

Berapa lamanya kita harus mengalami kondisi sulit?
Selama itu diperlukan.. .
Tuhan MAHA TAHU berapa lama proses "mendidik" dan "membentuk" kita

Bayangkan coba
Kalau hidup tak ada lika-likunya?
Tidak ada guncangannya?

Kita bakal tumbuh jadi orang2 "kerdil"
Jika kita melewati hidup ini tanpa hambatan, kemungkinan besar kita akan pincang.

Semua orang-orang berjiwa besar
PASTI pernah mengalami titik rendah - yang seringkali merupakan turning point dan momen belajar terbesar dalam hidupnya

Oleh karena itu ikhlaslah menerima setiap momen dalam hidup baik maupun buruk.

Seperti cerita diatas, berikan kesempatan kepada diri sendiri untuk tumbuh dan berkembang.

SEBUAH KENANGAN

Apa yang terlintas dalam benak tentang sebuah kenangan? Kadang indah bila yang ditinggalkan adalah keindahan, akan tetapi bila itu justru hal yang buruk, maka hanya sakit yang tersisa.

Mengurai kenangan membuatku kembali pada masa-masa menjalani kenangan tersebut. Aku masih teringat setiap apa yang pernah kualami meninggalkan kenangan, entah dengan kekasih, anak, isteri, saudara ataupun pada sahabat. Masih jelas terngiang saat sahabatku mencurahkan hatinya mengenai perasaan rindunya pada sang kekasih.

"Mas..!
Aku kok teringat sama dia ya!
"Aku teringat kenangan saat bersama ketika pergi ke Jakarta bersamanya dari Jogya!"

Begitulah kira-kira dia menyampaikannya padaku.
Ya, kenangan yang dia ceritakan. Begitu berartikah sebuah kenangan? Dalam konteks yang bagaimana sebuah kenangan itu berarti.Aku sendiri belum begitu memahaminya.Namun masih terasa di hati saat mengenangnya, bahkan kadang kita tak menyadari terlarut dalam sebuah kenangan.

"Mas...!
Aku kok teringat sama dia ya!
Saat pergi berdua Ke pantai Baron, duduk berdampingan sambil corat-coret di pasir menuliskan arti nama masing2, pokoknya indah banget!"

Itu lagi yang dia sampaikan berikutnya
Heh, adakalanya aku lelah bila harus mengingat kenangan, pengen kukubur dalam sebuah kenangan. Karena hanya akan membuatku berhenti di tempat, terus memanjakan diri dengan kenangan.

"Mas...!
Aku kok teringat sama dia!
Saat dia mengundangku kerumahnya lalu disampaikan ucapan cukup sekian kita berhubungan, aku sedih dan kecewa banget!"

Itu yang dia sampaikan berikutnya
Bila kenangan itu indah membuaiku dalam imajinasi saat bersamanya, tersenyum seakan penuh makna. Berurai airmata bila kenangan itu pahit dan menyakitkan.

"Mas...!
Aku tidak bisa melupakan kenangan bersamanya!
Susah banget rasanya. Tetapi masihkah dia mengingat semua kenangan itu!"

Melupakan kenangan?
Memang tidaklah mudah,apalagi bila telah melekat di hati. Kataku susah banget!
Begitu kira-kira bila di ungkapkan, namun sesulit apapun melupakan kenangan, kita harus berusaha bila semua itu tak mungkin kembali. Tak perlu susah-susah melupakan kenangan, biarlah semua berlalu begitu saja. Kelak dia akan terlupakan dengan sendirinya tanpa kita perlu pusing memikirkannya.

Namun menurutku sebuah Kenangan adalah BENTUK LAIN dari pertemuan.

SANG QOLBU

Ketika hati bicara tentang keinginannya untuk mendapatkan sesuatu, si otak di kepala memerintah kaki untuk melangkah, dan juga tangan untuk meraih.

Ketika tangan tak sanggup menggapai, juga kaki tak sanggup melangkah, bahkan utk sekedar menopang tubuh, hati merasa sedih. Dikala begini otak memerintah si mulut untuk mengumpat marah sambil menurunkan sabdanya kepada mata untuk membuka pintu airnya.

Demi mengetahui begitu dahsyat perintah yang diberikan oleh otak yang bersemayam dikepala-yang mungkin merasa paling tinggi kedudukannya, sang qolbu menjadi semakin sedih,dan merasa tak mampu mengendalikan arogansi otak atas organ lainnya. Berkeluhkesahlah dia kepada penguasanya,sang Khaliq,yang maha berkehendak atas segalanya.

DihiburNya sang qolbu. Dikuatkan dan disegarkan lagi keyakinannya. Bahwa segala yang jadi keinginan itu pasti akan terwujud. Hanya kapan waktu perwujudannya itu yang tak bisa sang Khaliq bukakan kepada sang qolbu. Itu jadi rahasiaNya. Yang Beliau yakinkan adalah bahwa keinginan itu akan diberikan ketika memang dibutuhkan. Jadi bisa sesaat diminta-diberi. Bisa ditangguhkan nanti sesaat lagi, bahkan bisa jadi nanti ketika kaki, tangan, otak dan hati tak mampu berkeinginan lagi...

**************

Kesabaran....
Sabar tak bisa diukur, tapi kesabaran sering ditakar dari kesanggupan berapa lama sanggup menanti, seberapa tahan menghadapi cobaan....

DEMI MASA

Jam. Bisa jadi hanya sebuah benda. Bahkan hanya jdi sebuah pelengkap penampilan ataupun hiasan. Dan kalau ini yang terjadi maka nilai ekonomi ikut bicara, karena orang yang mengenakan jam atau memasang jam dinding dengan merk tertentu akan merasa lebih bergaya/bergengsi daripada orang lain. Yaa..paling tidak akan merasa lebih pede (ini kalau mau jujur ngakui loh!).

Tetapi manakala kata 'JAM' dituliskan atau diucapkan sesudah angka tertentu, maka makna kebendaannya menjadi sangat berubah. Karena disitu kata 'Jam' berubah makna menjadi sesuatu yang lebih berkualitas dari sekedar kebendaan, yaitu 'WAKTU.

Waktu.
Sesuatu yang selalu orang miliki, tapi sering tak menyadari adanya, sehingga sering membiarkan itu berlalu begitu saja tanpa sesuatu terjadi untuk mengisi dengan hal-hal yang lebih bermakna.
Betapa banyak orang yang senang menunda menyelesaikan urusannya, dan ketika waktu yang tersedia telah berakhir baru sibuk mencari alasan untuk membenarkan tindakannya, bukannya sibuk menyelesaikan urusan yang tertunda itu. Dan tak kurang banyaknya, orang yang mengkambinghitamkan sesuatu atau seseorang untuk mendukung pembenaran itu.
Ketika seorang siswa terlambat datang di sekolah, ketika ditanya mengapa sampai terlambat datang, dia tidak menjawab dengan 'Karena saya kurang baik mengelola waktu' tetapi jawab yang dia berikan adalah 'Karena bis yang saya tumpangi jalannya sangat pelan'.
Sepatutnya siswa tersebut mengingat jarak dari rumahnya sampai di sekolah, moda apa yang dapat digunakan, berapa lama waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut dengan moda yang digunakan itu, sehingga dia dapat memperhitungkan kapan dia harus berangkat agar sampai di sekolah tepat pada waktunya, dalam arti tidak terlambat.

Itu sekedar contoh yang mudah dilihat. Masih banyak contoh kejadian yang lain, yang orang jadikan alasan pembenar penghamburan waktu yang dilakukan. Meski agama mengajarkan : Ingat lima perkara sebelum lima perkara. Juga sumpah Allah dalam salah satu firmannya, demi masa...

Waktu...atau masa... Tak pernah terbeli karena tak pernah ada yang menjualnya.
Semua manusia diberi waktu yang sama oleh Allah, 24 jam sehari, tetapi ternyata ada yang menghabiskan sebagian besarnya dengan berlalu begitu saja tanpa hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun bagi sesama.

SENYUMAN

Bertahun yang lalu aku sempat berbincang dengan bapak mertua kakakku. Beliau orang yang sangat kuhormati, dan kami memiliki kedekatan yang khusus layaknya seorang bapak dengan anak gadisnya. Entah rona apa yang tampak diwajahku saat itu, tiba-tiba beliau menasehatiku dengan satu kalimat pendek saja. 'Senyum saja Tut. Hadapi saja dengan semua dengan senyum'.

Ketika itu aku tak tahu mesti menjawab apa selain mengiyakan saja nasehat itu. Dan sekarang, setelah beliau renta dan akupun tak muda lagi, nasehat itu tak pernah kulupa. Akupun berusaha mengerti makna nasehat itu dan kucoba menjalaninya.
Ternyata, sungguh tak selalu mudah tersenyum, terlebih ketika aku temui sesuatu yang tak begitu mengenakkan hati padahal harus berhadapan dengan orang lain karena suatu keperluan. Ataupun ketika hati sedang gulana. Entah senyum macam apa yang tersungging dibibirku dikala begini. Tapi, tak jarang, bahkan seringkali, senyum mampu mencairkan kebekuan yang terbentuk dalam suatu situasi.

Senyum. Senyum sangat mudah dilakukan. Tak perlu beli untuk pengadaannya. Adanya bisa meluluhkan kekakuan. Dan ketika senyum bisa membahagiakan orang, disitu bisa jadi senyum bermakna ibadah...

Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi biar terjadi
Hadapi...dengan tegar jiwa
Semua...pasti kan baik saja...

'Hadapi Dengan Senyuman' (Achmad Dhani)